Go to front page
 
Full name : Depa Suropanjalu
Nick name : Depa
Birth place / date : Surabaya / 1Januari 1980
Status : single
Activity : freelance programmer
Interest : guitar
Music : Grunge
Favorite : buble gum
Love : Selina
 
     Go to character profile : Kalivta
     Go to character profile : Depa Suropanjalu
     Go to character profile : Mila Jasmina
     Go to character profile : Radimas Satrio Wetan
     Go to character profile : Joliana Naritasari
 
   Halaman 43
 
Seumur hidupku baru dua kali aku pakai dasi, waktu wisuda dan saat ini. Aku berdiri di depan wastafel, membasahi mukaku dan terutama rambutku agar tidak berantakan karena ukurannya sudah panjang untuk takaran orang rapih. Bosku di kantor lama paling sebel melihat rambutku. “Jangan seenaknya sendiri, ini bukan perusahanmu!” begitu dia kalau sedang ngomel. Ya, dan ini bukan negaramu.

Waktu aku masih 5 bulan dalam kandungan, ibuku pernah dipukul di bagian perutnya oleh bosnya yang orang asing karena emosi. Emosi karena hutangnya di bank sudah menumpuk atau entah karena apa. Mungkin karena mereka menganggap orang pribumi itu sampah. Ibuku tidak mau mengadu ke polisi. Dia memilih resign hari itu juga. Mungkin karena itu, aku selalu membenci mereka.
 
   Halaman 52
 
Kadang cincin di jarinya itu yang bikin sakit, cincin kawin dengan ibuku. Tapi apapun yang dilakukannya, aku tidak pernah menangis buat dia. Terakhir dia mulai memanggilku “you”.
“You sebagai anak tiri…!”
“You musti pakai otak…!”
“You bisa nggak bertingkah seperti orang normal...!”
“You…You…You…!”
 
   Halaman 57
 
Tidak ada orang yang tidak berubah, semua orang berhak menjadi apa yang dia mau. Tetapi tetap saja aku merasa yang ada di depanku adalah Desi. Desi sebagai objek, yang di mataku tetap Desi. Perubahan-perubahan yang terjadi hanyalah bagian dari perubahan data yang ada di dunia ini. X=1, bisa juga x=2, atau x=3. Data bisa apa saja, terserah pada yang berkuasa memasukkan data. Desi di otakku seperti sebuah variabel dan aku tidak peduli dengan data di dalamnya.
 
   Halaman 60
 
Tiba-tiba Desi bergerak ke atasku. Kakinya mengangkang dan duduk di atas pinggangku. Matanya sayu menatapku, rambutnya yang sebahu sedikit berantakan. Untuk sesaat aku hanya bisa memandanginya. Desi menunduk, kedua tangannya di atas dadaku. Dia mulai menarik tangannya ke bawah. Bisa kurasakan ujung-ujung kukunya yang dicat merah. Desi melepas kaosnya. Dia sudah tidak memakai BH. Dalam sekejap bibirnya sudah bertemu dengan bibirku. Beberapa detik kemudian aku masih bisa merasakan sisa rasa coklat jagung bakar di bibirnya. Tetapi ada hal yang mengganjal di dalam otakku. Aku merasa begitu ganjil dalam kondisi seperti ini. Aku dorong Desi ke belakang dan Desi pun tersentak ke samping.

Aku duduk di kursi. Kunyalakan rokokku. Kulihat Desi masih di atas kasur, punggungnya tersandar ke tembok, mendekap sebuah bantal, memandang ke arahku. Dia adalah sosok yang musti aku hormati. Entah bagaimana hidupku sekarang kalau tidak ada dia. Berjuta-juta orang mati dalam perang dan dianggap pahlawan. Desi tidak mati dalam perang. Tetapi bagiku dia adalah seorang pahlawan.
 
   Halaman 77
 
Di belakang rumah kontrakan ada bekas bengkel yang kosong tidak terpakai. Aku pernah dimasukkan bapak tiriku ke dalam bengkel itu, pintunya diganjal balok kayu dari depan. Aku cuma berdiri diam karena di dalam begitu gelap. Apa yang bisa kuperbuat. Aku hanya bisa berharap ibuku datang membukakan pintu. Saat itu kulihat ada bayangan bergerak di sudut ruangan. Bentuknya seperti anjing. Aku pikir mungkin ada anjing yang tinggal di bekas bengkel ini. Tidak hanya satu, mungkin lima atau enam. Tetapi anjing-anjing itu bisa berdiri. Dan tubuh mereka lebih besar dari manusia. Aku melangkah ke belakang tapi punggungku sudah menyentuh pintu. Mata mereka merah. Beberapa pasang mata yang menyala dalam gelap itu mulai mendekatiku. Mereka semakin dekat. Aku coba untuk berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Tubuhku bergetar hebat waktu bisa kulihat lidah mereka terjulur panjang ke depan. Mereka berdiri hanya beberapa sentimeter di depanku. Hembusan nafas mereka terasa dingin menyentuh kulit kepalaku. Mereka berdiri menatapku lama. Mereka seperti melihat tanganku. Kemudian mereka merunduk. Merunduk dan bersujud di depan kakiku.
 
   Halaman 93
 
Kulihat Selina memincingkan matanya, posisinya masih telungkup di atas kasur. Dia menggeliat meluruskan bagian tubuhnya. Sebagian mukanya tenggelam di bantal yang dipeluknya. Dia tersenyum. Seberkas sinar pagi menerobos jendela kamarku, memantul lembut di putih kulit wajahnya. Aku sempat berpikir sawal bantal itu entah berapa minggu belum dicuci. Tapi tampaknya dia tidak peduli, malah semakin erat memeluk bantal, senyumnya masih di sana.
 
   Halaman 95
 
Di tempat ini tugu monas tidak ada. Tidak ada benda vertikal. Jajaran pohon mendominasi sudut horison. Pohon-pohon berdaun merah. Merah burgundi. Bunganya rekah kuning keemasan. Membuat garis nuansa merah dengan tekstur berbintik kuning. Membagi dua ruang yang tak berhingga, biru berbercak mega dan hijau bergores semak.

Angin membawa butiran bunga kuning keemasan. Beterbangan di sekitar kami. Ringan dan lembut. Memenuhi ruang udara di atas batas rerumputan. Gemulai, lupa akan gravitasi. Selama ini aku selalu berusaha menyusun puzzle hidupku. Puzzle yang berserakan. Sampai aku temukan potongan puzzle bernama Selina. Setelah itu aku merasa cukup. Tidak perlu lagi aku susun semua gambar. Aku berhenti bermain puzzle.
 
   Halaman 124
 
Di jarak pandang ini, pohon itu seperti bicara, hingga aku bisa rasakan apa yang Selina rasakan di bawah cabang-cabangnya. Lalu bisa kulihat seorang gadis kecil yang berlari kecil mengitarinya. Dan akhirnya kepedihan itu, saat api membumbung tinggi, mengirim gumpalan hitam ke langit, menyisakan onggokan batang tak berdaya, yang sekarang membisu. Sesaat kulihat tanganku. Mahluk apakah kita ini Sel, hingga kamu harus menanggung semua ini.
 
 
Website Naskah Novel Paranormal Academy Website Naskah Komik The Wolves