Go to front page
 
Full name : Radimas Satrio Wetan
Nick name : Etan
Birth place / date : Semarang / 1Januari 1980
Status : single
Interest : karate
Book : Musashi
Favorite : my town
Wish : my parent forgiveness
Quote : there is no normal life, there is just
              life
     Go to character profile : Kalivta
     Go to character profile : Depa Suropanjalu
     Go to character profile : Mila Jasmina
     Go to character profile : Radimas Satrio Wetan
     Go to character profile : Joliana Naritasari
 
   Halaman 19
 
Inilah kampungku. Rumah-rumahnya tipikal rumah kampung yang sederhana, bagian rumahnya masih ada yang menggunakan kayu dan seng, dicat putih seadanya. Pagarnya kebanyakan dari bambu. Dan pagi ini bendera merah putih sudah berkibar di setiap depan rumah, walau hanya menggunakan tiang bambu dan diikat dengan tali seadanya.

Rumahku mungkin yang paling representatif dibanding yang lain. Bapakku seorang dosen Arsitektur, ibuku dosen Teknik Kimia. Tidak seperti dosen-dosen lain yang sering ngobyek di luar, mereka terlalu akademisi, pengabdian mereka hanyalah untuk ilmu pengetahuan. Mereka sama-sama mengambil S2 di ITB, dan di sana pulalah mereka bertemu. Jadi wajar jika hidup kami bisa dibilang sederhana. Apalagi kami 6 bersaudara dan aku anak paling bungsu.
 
   Halaman 31
 
Butiran pasir terasa di telapak kakiku dan riak air sudah mulai menyentuhku. Aku melewati bayang-bayang kolom anjungan di air. Peni sudah di sana berputar-putar seiring dengan ombak yang menghantam kakinya. Sosoknya seperti siluet yang menari di latar semburat langit yang menguning. Dia melambaikan tangannya. Senyumnya secerah garis-garis sinar matahari yang mulai muncul. Dia begitu cantik. Sesuatu paling indah yang pernah terjadi di dalam hidupku.
 
   Halaman 32
 
“Kalau babi betina sedang birahi, dia akan menggoda babi jantan, tinggal menunggingkan pantatnya saja sambil bersuara nguiiik…” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut bapakku. Dia memang begitu kalau menasehati anak-anaknya. Tidak langsung menunjuk orang, tetapi menggunakan cerita-cerita sebagai perumpamaan. Biasanya cerita yang diambil dari tokoh-tokoh pewayangan, karena bapaknya dulu seorang dalang. Tapi sekarang dia memakai karakter babi.
 
   Halaman 38
 
Aku ingat Peni. Merasakan apa yang dia rasakan. Betapa dia begitu tak berdaya. Berapa lama dia harus bertahan dengan penderitaannya hingga terengut nyawanya. Dengan darah dan jiwaku, aku benar-benar tidak rela Peni diperlakukan seperti itu. Aku benar-benar muak! Kuangkat badanku dan kukibaskan tanganku, hingga orang-orang itu terhuyung ke belakang. Orang yang mencengkeram kepalaku tadi, pendek dan brewokan, berusaha untuk berdiri. Tidak kusia-siakan kesempatan ini untuk melayangkan tinjuku ke kepalanya. Dan sesuatu terjadi. Dia langsung terkapar di lantai. Kali ini benar-benar kulihat di bawah sinar lampu pijar. Kepalanya pecah seperti semangka yang terbelah-belah. Otaknya berhamburan, darahnya muncrat sampai ke tembok toilet. Aku berdiri termangu. Kulihat lumuran darah masih menetes di tanganku. Orang-orang masih berdiri terpaku di tempatnya masing-masing. Satu orang maju mengayunkan balok kayu ke arahku. Aku tangkis dan balok itu patah jadi dua. Mereka lari berhamburan keluar toilet. Aku kejar orang yang membawa balok kayu tadi, persoalanku belum selesai, penderitaan Peni belum selesai dan mereka harus membayarnya. Kalau bisa mereka semuanya.
 
 
Website Naskah Novel Paranormal Academy Website Naskah Komik The Wolves