Go to front page
 
Full name : Mila Jasmina
Nick name : Mila
Birth place / date : Jakarta / 1Januari 1980
Status : single
Activity : architecture & interior designing
Interest : photography
Love : my life
Favorite : my vila, my tower
Quote : patience & forgiveness
 
     Go to character profile : Kalivta
     Go to character profile : Depa Suropanjalu
     Go to character profile : Mila Jasmina
     Go to character profile : Radimas Satrio Wetan
     Go to character profile : Joliana Naritasari
 
   Halaman 130
 
Ketika aku harus menghadapi kenyataan perceraian orang tuaku saat umurku delapan tahun. Ayah dan ibuku menikah lagi dengan orang lain. Kini mereka punya keluarga sendiri-sendiri. Aku tidak bisa ikut ayahku atau ibuku. Aku tidak bisa menelan kebahagiaan orang lain, mereka bukan keluargaku. Kadang susah kupahami pola pikir orang dewasa. Akhirnya kujalani hidupku di garis itu. Kenapa hidup harus punya keluarga. Aku bisa keluar dari norma yang berlaku. Seperti mengendarai mobil dengan kecepatan penuh di jalan bebas hambatan. Melewati tiang-tiang lampu jalan yang melintas di atas begitu cepat. Atau berjalan di atas ketinggian dimana langit berada di atas kepala. Melihat orang lalu lalang seperti semut di bawah sana . Seberapa cepat dan tinggi hidup yang harus kujalani, kuingin lebih cepat, kuingin lebih tinggi. Tidak ada yang menghalangi jalanku, matahari tidak membakar kulitku. Aku tak takut dunia. Sampai kakiku terasa perih dan jalanku tertatih. Karena ujungnya adalah kenyataan pedih. Tiga kali pernah kutabrakkan mobilku. Yang terakhir aku koma dua hari di rumah sakit. Kubentangkan tanganku ke langit, berusaha menggapai ketinggian itu. Tapi hanya udara yang kurengkuh.
 
   Halaman 132
 
Di saat kamu bisa mengayunkan pedangmu di tengkuk orang yang bersalah. Kau letakkan pedang itu, kau berikan sesuatu walau dia tidak menginginkannya. Pemberian maaf. Dunia yang akan menginginkannya. Kalaupun dunia tidak menginginkannya, alam selanjutnya pasti menginginkannya. Perkataan itu menggulung samudra jiwaku yang selama ini bergumul dengan gemuruh badai. Terhempas di tepian pantai yang bisu. Pecah jadi bulir, luluh di antara pasir. Aku menangis. Kuingin bisa memaafkan kedua orang tuaku.
 
   Halaman 147
 
Entah sudah berapa wajah-wajah yang bisa kutangkap dengan benda ini. Raut-raut yang menyimpan semua gambar kehidupan. Kadang kulihat keceriaan, kadang kepedihan dan kegetiran. Dan aku merasa menjadi seorang saksi di antara gambar-gambar mereka. Saksi yang tidak eksis. Aku merasa hilang. Diriku hanyalah dua buah mata. Merasakan apa yang mereka rasakan hingga bisa tak kurasakan hidupku sendiri. Aku tak suka mengambil gambar orang yang melihat ke kamera karena mereka akan menandakan eksistensiku. Lebih baik aku mengambil gambar benda mati yang tak mengusikku. Tapi potret manusia tetap paling menarik buatku. Apalagi kalau aku tak kenal mereka dan tak perlu kenal mereka. Tak perlu interaksi emosional maupaun ikatan historikal.
 
   Halaman 189
 
Sudah begitu tuakah dunia di milenium ini? Sampai titik mana bumi ini akan bertahan dengan semua paradoks perilaku penghuninya? Obat epidemi AIDS belum ditemukan sementara 4 juta orang lagi diperkirakan akan mati tahun ini. Tinggal menunggu berapa tahun lagi penghuni bumi kehilangan sumber energi? Menyisakan lubang menganga di bawah hamparan yang kita injak. Pelan tapi pasti pemanasan global akan menenggelamkan sebagian bumi dan kita akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri gerak evolusi yang akan terjadi.

Dan siapa mengira di tengah-tengah kehidupan yang kita jalani sebuah negara dari dunia yang paling gelap sedang dibangun. Negara yang akan menguasai semua samudra. Memaksa manusia menjadi sekutu dan melahirkan ras-ras baru. Mereka sekarang ada di antara kita, melihat cara kita berjalan, cara kita makan bahkan cara kita tidur. Titik hitam itu mulai menggeliat, semakin banyak merembeskan kelam, yang selama ini membuat dunia jadi abu-abu. Tetapi dunia masih bertahan di keseimbangan abu-abu selama masih ada titik putih.

Hingga tanggal 1 Januari 1980 bayi-bayi yang telah dipilih akan terlahir ke dunia. Dari sebuah misi tak kasat mata yang dirancang selama peradaban akhir zaman bergulir. Anak-anak yang akan membawa semua intisari kekuatan manusia di tangannya. Suatu kekuatan yang dikumpulkan dari seluruh potensi terbesar mahluk yang bernama manusia dan hanya ras manusia yang berhak memakainya. Tapi rencana itu tidak berjalan. Entah apa yang terjadi. Dan entah bagaimana nasib bayi-bayi itu. Walau ternyata ada beberapa yang masih selamat. Salah satunya sekarang ada di sini. Aku...
 
   Halaman 214
 
Langit biru itu penuh dengan burung beterbangan. Serombongan sayap-sayap kecil dengan ekor yang terbelah. Betapa malang serangga yang tersesat di tengah jalur-jalur mereka meluncur. Mereka yang berdatangan dari pucuk-pucuk cemara di sana . Mengikuti tiupan angin sore yang melewati ujung menara di depanku. Pucuk rumput begitu terasa menyentuh kulitku. Aku memakai celana pendek, terduduk di atas rumput, kakiku terjulur ke depan. Kutengadahkan kepalaku ke ketinggian atap menara yang menyentuh langit. Burung-burung itu tak akan pergi sebelum angin mengabarkan arah pencarian mereka. Mereka yang berputar-putar di atas tembok yang berdiri kokoh. Sementara angin tenang menyentuh hamparan hijau di bawah kakiku. Ketenangan yang tak ingin kulewatkan karena sore hanya sebatas lewat.
 
   Halaman 222
 
Tempat ini jadi sunyi. Bunga-bunga itu sudah bercampur dengan serpihan tanah yang basah. Aku masih berdiri di tempat yang sama, karena dari tadi aku memang tidak bergerak sesentipun. Sepatuku sudah tertutup warna coklat tanah dan tempat ini semakin kabur. Aku menoleh ke belakang. Dua orang masih ada di sana . Di bawah satu payung. Mereka yang dari tadi menungguku. Seorang wanita setengah baya dan laki-laki yang umurnya persis sama denganku. Kugerakkan kakiku di atas tanah yang becek, ke arah dua orang itu. Karena mungkin ini satu-satunya pilihanku. Barangkali bila tubuhku yang terpendam di antara nisan-nisan itu, hanya mereka yang akan berdiri di samping tempatku terbaring.

Aku melangkah ke arah mereka, dua orang di antara kabut gerimis…
 
 
Website Naskah Novel Paranormal Academy Website Naskah Komik The Wolves