Foto Wisuda Mila adalah gambar yang menjadi ilustrasi di salah satu bagian cerita dalam Novel The Hands.
Di gambar tersebut (dari kiri ke kanan) : Radimas Satriowetan, Mila Jasmina, Kalivta, Depa Suropanjalu.
Mereka sedang berfoto di acara wisuda Mila Jasmina. Foto tersebut menjadi bagian cerita di halaman 7-10 dan halaman 421-423.
     Go to front page
 
   Halaman 7-10
 

Jakarta, Februari 2002

“Jadi Mas sekarang ada di mana?”
“Apa bedanya Rud. Manusia, malaikat, iblis… kita bisa jadi apa saja.”

Rudi, seorang penulis lepas, wartawan freelance, mahasiswa ilmu komunikasi dan jurnalistik - setelah tiga tahun, ini pertemuan kedua kali dengan orang yang dianggapnya panutan semasa dia masih berseragam sekolah.

“Di Semarang Mas jadi legenda.”
“Legenda? Maksudnya?”
“Ya… kabur dari penjara, kebal peluru, bisa menghilang… mereka tak tahu kejadian sebenarnya.”
“Kalaupun tahu, mereka tak kan percaya.”
“Tapi saya percaya.”
“Kenapa?”
“Ya… saya percaya sama Mas.”
“Kamu anak yang baik Rud… dari dulu aku melihat kamu seperti itu.”

Etan, orang yang diwawancarai Rudi, sosok yang sudah dianggap hilang dari pencarian – setelah hampir setahun mencari, akhirnya Rudi menemukannya di ceruk-ceruk Jakarta.

“Orang yang membawa Mas kabur dari penjara, seperti apa dia?”
“Dia wanita biasa. Aku sudah menganggapnya ibuku sendiri.”
“Dia punya ilmu?”
“Dia cuma segelintir wanita yang punya sedikit keistimewaan. Apapun yang terjadi, di mataku, dia seorang malaikat.”

Rudi mengeluarkan foto ukuran post card dari buku catatannya. Dia sodorkan ke lawan bicaranya. Sebuah foto hasil forensik. Seonggok mayat telentang di atas alas logam. Badannya penuh tato. Bagian kepalanya hanya tinggal serpihan-serpihan daging. Hanya reaksi dingin tersirat di wajah Etan melihat gambar itu.

“Maafkan aku Rud. Aku telah bunuh kakakmu.”
“Dia pantas mati seperti itu Mas.”
“Semua terjadi di luar dugaanku.”
“Bagaimana Mas melakukannya?”
“Aku tak tahu Rud… keluar begitu saja, terutama saat kita emosi. Aku sedang belajar mengontrolnya.”
“Apakah mereka semua punya kekuatan seperti Mas?”
“Ya…”
“Seperti apa mereka?”

Etan merogoh dompetnya. Mengambil lembaran yang terlipat di antara isinya. Disodorkannya ke Rudi. Selembar foto yang lipatan di tengahnya sudah berserabut. Gambar empat orang, setengah badan, dua orang di sebelah kiri lipatan, dua orang lagi di sebelah kanan. Empat orang itu tersenyum menatap lensa, seseorang di tengah memakai baju wisuda. Paling kiri, orang yang dikenal Rudi, yang kini ada di depannya. Tapi di foto itu dia seperti melihat sosok yang berbeda dari yang bisa dia bayangkan. Di sebelahnya seorang perempuan memakai baju wisuda. Topi toganya tidak dipakai. Rambutnya lurus sepundak dibiarkan tergerai, tidak digelung seperti biasanya wanita diwisuda, tersenyum lepas memperlihatkan deretan gigi depannya. Bola matanya berbinar cerah seperti zamrud yang berkilau di bawah alisnya yang bergaris tajam. Persis di sebelah kanan lipatan, perempuan berambut lurus sampai ke punggung. Sebagian jatuh ke depan, beberapa menutup garis pipinya. Senyumnya lebar tersimpul. Rona wajahnya lembut, selembut sorot matanya. Di pinggir paling kanan, laki-laki berambut ikal, belakangnya hampir sepundak. Sisirannya basah ke belakang. Kumisnya tipis rata di atas bibirnya. Jampangnya pendek hanya di bagian dagu. Tersenyum lebar tapi pandangannya tetap datar.

Tombol tape recorder berbunyi di atas meja. Kaset di dalamnya berhenti berputar. Rudi membalik kaset tape recordernya, menyalakan tombol recordnya lalu mengamati lagi foto yang ada di tangannya.

“Mereka kelihatan seumuran Mas.”
“Umur kami sama. Bahkan sama persis. Kami dilahirkan di hari dan jam yang sama. Mungkin di menit yang sama.”
“Bagaimana perasaan kalian setelah tahu kalian berbeda?”
“Perasaan kami… nggak tahu ya Rud. Semua orang juga berbeda.”
“Siapa nama mereka?”

Etan mengambil foto di tangan Rudi. Melipatnya, memasukkan ke dompetnya lagi. Tampaknya tidak akan banyak informasi yang didapatkan Rudi.

“Kekuatan mereka juga ada di tangan?”
“Ya, ada yang sejak kecil sudah keluar sedikit-sedikit. Biasanya tangan mereka sering terasa pegal, kadang tremor. Ada juga yang tiba-tiba muncul begitu saja. Seperti aku. Dan itu yang berbahaya. Kamu tahu sendiri akibatnya.”
“Suatu saat saya akan menulis tentang kalian.”
“Bagus itu Rud. Tidak banyak orang dari lingkungan kita dapat melakukan sesuatu seperti kamu.”
“Adakah istilah untuk menyebut orang-orang seperti kalian?... atau… kalian menamakan diri kalian apa?”
“Apa ya?... Aku nggak tahu Rud.”
“Bagaimana kalau the Hands?... Etan the Hands… bagus kan? Kaya Billy the Kids.”
“Ada-ada saja kamu Rud.”

Langit sudah tercoreng merah. Gelap mulai merambati ceruk-ceruk di antara gedung-gedung tinggi. Di salah satu ceruk yang becek dan bertaburan sampah, sebuah warung makan reot sudah mulai menyala sinar kuningnya. Rudi dan Etan keluar dari warung itu. Mereka saling melambaikan tangan, untuk entah kapan bertemu lagi. Masing-masing sudah tenggelam di hiruk bisingnya mesin-mesin jalan, di suatu tempat yang tak akan pernah tidur.

 
   Halaman 421-423
 

30.000 kaki di atas Laut Jawa, pukul 10:35

Aku tersenyum, menolak halus saat seorang pramugari menawariku snack. Aku tak ingin banyak sesuatu ada di atas pangkuanku, karena di situ sedang kubuka agendaku, yang di tengah lembarannya terselip selembar foto. Foto yang diambil sebulan yang lalu saat acara wisuda Mila. Foto kami berempat. Kami yang tampak setengah badan, berjejeran menghadap kamera. Aku dan Mila ada di tengah. Mila tak memakai topi toganya, karena acaranya memang sudah selesai. Tapi dia sengaja membiarkan rambut sepundaknya tergerai, tak mau repot harus pergi ke salon. Masih mending dia tak mengecat merah rambutnya seperti biasa. Tapi itulah Mila. Tak peduli walau dia beda. Begitu percaya diri saat naik panggung menerima ijazahnya. Tak pernah kulihat Mila secerah di foto ini. Anak yang moodnya begitu cepat berubah. Aku selalu kagum akan semangatnya saat dia inginkan sesuatu, walau kadang egonya membuat orang jengkel. Tapi sebenarnya hatinya mudah tersentuh. Kami berdua sudah seperti saudara. Lalu di sebelah kananku Depa. Anak itu selalu terlihat tak berekspresi. Kalau belum kenal, orang akan menganggapnya acuh. Apalagi jika dengar kata-katanya yang sinis. Tapi bila telah akrab, dia bisa berbuat apapun membantu siapa yang dianggapnya teman. Sejak keluar dari rumah sakit dia mulai berhenti merokok. Kukira tak perlu lagi kami ingatkan dia mengenai rokok, karena dia sudah merasakan akibatnya. Sekarang kemana saja dia selalu membawa permen karet di sakunya. Kudengar dia mulai mengirim lamaran untuk mencari pekerjaan tetap, karena pekerjaan freelance memang tak baik untuk kesehatannya. Sudah beberapa hari ini dia ada di Surabaya. Katanya mau mencari saudaranya. Aku tak tahu dia punya saudara. Kadang kupikir kami tak begitu banyak tahu tentang dia. Lalu ada Etan di pojok paling kiri. Siapa mengira di balik mata polosnya, dia di antara kami yang telah tercetak untuk membunuh. Keseharian dia akan terlihat seperti orang yang terlalu sopan pembawaannya. Perasaannya sangat sensitif. Dia tampak lebih dewasa di foto ini. Terlihat lebih tua dari kami bertiga. Dan aku ingin selalu menganggapnya begitu, menganggap dia lebih tua dariku. Etan dan Mila punya rencana untuk buka kantor konsultan sendiri di rumah Mila di Jakarta Selatan. Aku harap mereka berhasil dengan rencananya.

Kupandangi sekali lagi wajah-wajah di foto itu. Akankah mereka masih seperti ini saat nanti kukembali. Tiga tahun bukanlah waktu yang pendek. Apakah mereka masih mengingatku? Punya perasaan yang sama terhadapku? Dunia akan selalu berubah. Siapa saja bisa berubah. Apapun bisa terjadi esok. Terjadi pada mereka, juga pada diriku. Tapi kuterduduk di sini, di ketinggian 30.000 kaki, kutelah siap untuk segala yang akan terjadi.

Hati-hati kuselipkan lagi foto itu ke agendaku. Kupandangi awan pada jendela bulat di sampingku. Gumpalan putih itu bak hamparan lembut di bawah sana. Kubayangkan diriku ada di atasnya. Di antara gumpalan halus yang bergerak gemulai. Ketika bulu-bulu itu mulai tumbuh. Mekar di bentang tanganku. Memantulkan kilau putih saat helai-helai lembutnya bebas terkembang. Lalu kan kutangkap angin yang lewat di getar serabut halus sayapku. Hingga kumelayang, melebur di biru langit.

 
 
Website Naskah Novel Paranormal Academy Website Naskah Komik The Wolves